Senin, 21 Juni 2021 - 23:06 WIB

Rajin Medsos-an, Iskandar Diundang Pameran Tunggal di Bangkok

Oleh :

Rajin Medsos-an, Iskandar Diundang Pameran Tunggal di Bangkok


m_TELEMATIKA (Jakarta) - Di era industry 4.0 ini orang tak boleh gaptek (gagap teknologi). Teknologi yang paling dekat dengan kita adalah ponsel android. Teknologi aplikatif banyak berceceran di sana. Semua dapat diikuti secara mudah. 

Salah satu yang berhasil memetik hasilnya adalah Iskandar Hardjodimuljo (58). Dia berhasil meluaskan pertemanan hingga ke manca negara melalui jejaring media sosial (medsos) Facebook (FB),  WhattsApp (WA), dan Instagram (IG).  "Lha berkat FB, WA, dan Instagram, saya dapat banyak kenalan," tutur Iskandar.

Dia adalah seorang pelukis bercorak wayang. Namun media lukisnya bukan kanvas biasa. Tapi kaca dan barang bekas atau uwuh (sampah). Kini karyanya dipajang di sebuah galeri seni di Bangkok. Yang dia merasa bersyukur, salah satu lukisan kaca bercorak wayangnya dikoleksi di Museum Wayang dan Senirupa yang ada di Kota, Jakarta.  

Dia mengaku kaget saat jalan dan lihat-lihat ke Museum Wayang dan lihat-lihat lukisan karya para maestro, seperti Sudjojono, Affandi, dan Basuki Abdullah, pertengahan Desember 2019 lalu. "Saya terkejut. Ternyata dua lukisan kacaku ikut dikoleksi oleh Museum Seni Rupa dan pas bersanding dengan pelukis Rastika," tutur pria kelahiran Yogyakarta ini. 

Pimpinan Museum yang ditemuinya, menjelaskan, kedua lukisan kaca karya Iskandar masuk museum itu pada 2017. Tapi baru dipajang pada Oktober 2019. "Mereka bilang itu atas rekomendasi kuratornya. Bahkan kedua lukisan itu dijadikan contoh bagaimana proses membuat lukisan kaca,"  katanya kepada m_TELEMATIKA. 

Kebanyakan koleksi lukisan di museum itu  karya pelukis yang sudah meninggal dunia. Termasuk lukisan almarhum Batara Lubis, tetangganya di Blok E Pengok, Yogya. Dia sendiri tinggal tak jauh dari sana, yaitu di Kampung Sapen. Namun kini Iskandar lebih sering tinggal di Tebet, Jakarta Selatan, tepatnya di kawasan bantaran Kali Ciliwung (Bacili). 

Berkat lukisannya yang nongol di IG, banyak penikmat seni lukis dari mancanegara yang datang ke Bacili. Termasuk dari Belanda dan Polandia. Mereka minta diajari bikin pigura dari bahan sampah. "Mulih-mulih tuku lukisan sing cilik-cilik gampang lhe nggowo. Seko Jepang dan Brasil malah mulih dho tuku kaos lukis wayang. Yo mergo hubungan dunia maya (pulang-pulang beli lukisan yang kecil-kecil biar mudah dibawa. Dari Jepang dan Brazil, malah pulangnya beli kaos gambar wayang. Ya ini karena hubungan dunia maya," ujar sarjana akuntansi ini. 

Ihwal lukisannya bisa majang di Bangkok, Iskandar bercerita. Sudah berkali-kali dua mengirim beberapa lukisannya ke Bangkok. Menurut dia, banyak orang menyukai jenis lukisan wayangnya. "Sebelumnya, berminggu-minggu saya membuka sesi pelatihan membuat wayang uwuh di Galeri Seni di Bangkok, pesertanya bahkan ada yang profesor," ujar Iskandar, pemilik sanggar Omah Sawo di Kampung Sapen, Yogyakarta. 

Ketika itu dia mendapat kesempatan mengadakan pameran tunggal lukisan kaca.  Namun sayang, lukisannya mejeng sendirian  di Bangkok Art and Culture sendirian. Artinya, dia tak menjumpai karya pelukis Indonesia lainnya di Bangkok. Menurutnya, karena minimnya promosi di luar negeri. Iskandar pernah berkunjung ke Kedubes RI untuk Thailand di Bangkok. Namun sayang, tak ada yang menemuinya. 

Itu sebabnya,  dia setuju perlu ada intel dagang di luar negeri. Soal itu diungkap oleh Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DKI Jakarta Ahmad Syarbini dalam Focus Group Discussion (FGD) Peluang UMKM di Era Milenial Dalam Memanfaatkan Digitalisasi Produk Perbankan, 10 Desember 2019 lalu. 

"Cocok. Kalau produk Indonesia ingin maju dan berkembang di luar negeri, ya banyakin intelijen bidang bisnis, perdagangan, juga seni," katanya. Dari situ kita jadi tahu apa saja kebutuhan mereka yang bisa kita cukupi," kata Iskandar lagi. ()

 

Editor: bn2