Senin, 21 Juni 2021 - 23:43 WIB

Ulang Tahun ke-54, Adian Husaini Luncurkan 54 Artikel Digital

Oleh :

Ulang Tahun ke-54, Adian Husaini Luncurkan 54 Artikel Digital


 

m_TELEMATIKA (Jakarta)- Mantan wartawan ini sudah 100% banting profesi. Kini sudah menjadi intelektual Islam dengan pemikiran yang moderen. Kajiannya tentang berbagai masalah, baik politik, kenegaraan, budaya, sosial, hingga ekonomi selalu dirujuk dengan sudut keislaman.

Sudah menyebar di berbagai media. Bahkan, agar tidak bercerai berai, artikel-artikel kontemporernya dikumpulkan dalam web blognya www.adianhusaini.net. Untuk mengaksesnya, tidak bisa sembarang unduh. Harus mendaftar menjadi member. Diberi password. Dan berlangganan, bisa bulanan atau tahunan. Langganan berlaku untuk perorangan dan lembaga.

Adian Husaini, penyandang gelar S3 PhD dari Islamic Civilization di International Institute of Islamic Thought and Civilization-- Internasional Islamic University Malaysia (ISTAC-IIUM) dengan disertasi  berjudul “Exclusivism and Evangelism in the Second Vatican Council: A Critical Reading of The Second Vatican Council’s Documents in The Light of the Ad Gentes and the Nostra Aetate.

Dia genap berulang tahun ke-54 tepat 17 Desember 2019. Sebagai kenang-kenangan, diluncurkanlah 54 artikel buat para sahabat dan koleganya.  “Hanya ini yang bisa saya bagikan. Mohon doanya, semoga saya dan kita semua senantiasa mendapatkan pertolongan Allah SWT, untuk bisa istiqamah dalam kebaikan,” tutur mantan wartawan Republika dan Berita Buana ini.

"Ke-54 artikel itu dapat dibaca setelah mendaftar menjadi member Pojok1000 Artikel yang dapat diakses melalui jalur whattsApp di nomor 0858-82930492 dan ketik: 54 Tahun," tutur admin Pojok1000 Artikel bernama Kusnadi. Pojok1000 Artikel itulah yang mengumpulkan semua tulisan Adian.

Ayah dari tujuh putra ini menjelaskan,  ide menyusun 54 judul tulisan itu datangnya mendadak, yaitu saat  tiba di Kuala Lumpur (14/12/2019) dalam rangka menemani santri-santri PRISTAC PP Attaqwa, yang sedang mengadakan Rihlah Ilmiah ke Malaysia dan Singapura.

Praktis dalam dua hari, tanggal15 dan 16 Desember 2019, Adian harus menyiapkan 54 artikel. Sebagian besar adalah merombak dan menyajikan ulang artikel-artikel atau makalah-makalah lama, menjadi artikel baru yang lebih enak dibaca dan mudah dipahami. "Dan yang penting, isi artikel itu masih relevan dengan perkembangan pemikiran kontemporer saat ini,” tutur suami dari perempuan bernama Megawati ini.

Belajar Al-Quran dengan Kyai Muhsin, kakeknya sendiri. Mulai ngaji “kitab-kitab kuning” dan bahasa Arab bersama Kyai Syadili di Langgar al-Muhsin Desa Kuncen-Padangan dan kepada Ust. Haji Bisri di Madrasah Diniyah Nurul Ilmi (1971-1981). Dia juga berguru kepada Kyai Sayyidun dan beberapa kyai lain di Pondok Pesantren Al-Rasyid Kendal Bojonegoro (1981-1984). Oleh ayahnya, H Dachli Hasyim, yang juga seorang guru, Adian dikenalkan dengan pemikiran Prof Hamka melalui Majalah Panji Masyarakat.

Semasa kuliah di IPB, mengambil Fakultas Kedokteran Hewan hingga lulus, pria utu banyak belajar kepada para ustad terkenal di Bogor, seperti Ustad Abbas Aula, Ustad Abdul Hanan, Ustad Musthafa Abdullah bin Nuh, dan KH Tubagus Hasan Basri. Kajian-ksjuan agama dilakukan di Masjid Kampus IPB Al Ghiffari dan Pesantren Ulil Albab Bogor bersama Didin Hafidhuddin (1988-1999). Sempat mengambil kursus Bahasa Arab di LIPIA Jakarta (1988). Ilmu politik banyak dipelajari dati tokoh dan politisi muslim seperti;  Hardi Arifin, KH Sholeh Iskandar, Hartono Mardjono, Dr. Anwar Harjono, Hussein Umar (alm.), KH Sholeh Iskandar, HM Chalil Badawi,  Ahmad Sumargono, KH A. Cholil Ridwan, juga  AM Syaefuddin.

Saat ini, pria kelahiran Bojonegoro itu tercatat sebagai Ketua Program Doktor Pendidikan Islam – Universitas Ibn Khaldun Bogor. Adian juga mengelola Pesantren at-Taqwa di Depok, sekaligus sebagai tempat tinggalnya. Sebelumnya pernah jadi dosen mata kuliah Islamic Worldview di Pusat Studi Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia (UI), Universitas Muhammadiyah Surakarta, serta dosen Pemikiran Islam di Program Kader Ulama (PKU) Universitas Darussalam Gontor.

Sebelumnya, pada 2003, bersama sejumlah cendekiawan seperti Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, Dr. Ugi Suharto, Dr. Anis Malik Thaha, Dr. Syamsuddin Arif, Adnin Armas MA dan Dr. Nirwan Syafrin, Adian mendirikan Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS), satu lembaga yang mengkhususkan diri pada penelitian dan pelatihan-pelatihan tentang pemikiran dan peradaban Islam. Sejak 2004, INSISTS juga telah menerbitkan Jurnal ISLAMIA, dengan kekhususan tentang pemikiran dan peradaban Islam. Sejak Maret 2009, INSISTS bekerjasama dengan Harian Republika menerbitkan jurnal Islamia, edisi koran, yang terbit setiap Kamis pekan kedua di Harian Republika.

Pernah aktif di sejumlah organisasi dan lembaga. Di antaranya; pernah menjadi Ketua Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (2005-2010), Pembina Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (2010-2020), pengurus Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus Pimpinan Pusat Muhammadiyah (2005-2010), maipun sebagai Wakil Ketua Komisi Kerukunan Umat Beragama MUI Pusat (2005-2011).

Buku-buku yang pernah ditulisnya adalah;  (1) Wajah Peradaban Barat: Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular-Liberal (Jakarta: Gema Insani Press, 2005).  Buku ini pernah mendapat penghargaan sebagai buku terbaik untuk kategori non-fiksi dalam Islamic Book Fair di Jakarta tahun 2006. (2)Hegemoni Kristen-Barat dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi (Jakarta: Gema Insani Press, 2006). Lainnya;  Filsafat Ilmu Perspektif Barat dan Islam, 10 Kuliah Agama Islam dan Filsafat Ilmu, Trilogi Novel Kemi, Pendidikan Islam: Mewujudkan Generasi Gemilang Menuju Negara Adidaya 2045, dan Perguruan Tinggi Ideal di Era Disrupsi. (*)

Editor: ab2