Senin, 21 Juni 2021 - 23:15 WIB

Ketika Berry Diminta Pulang Membangun Kampungnya

Oleh :

Ketika Berry Diminta Pulang Membangun Kampungnya

Spanduk Barita Purba terpasang di salah satu sudut di desanya.


BIASANYA orang rantau berani pulang ke kampung halamannya jika sudah menjadi orang, maksudnya sudah sukses. Sukses karena punya jabatan atau punya harta banyak.

Ada banyak cara pula bagaimana anak rantau berani pulang kampung. Setidaknya ada tiga cara. Pertama, Gagal menjadi orang di negeri seberang dan terpaksa balik lagi meniti dari nol. Kedua, membuka usaha setelah mendapat ilmu atau sukses menjadi pengusaha. Ketiga, ikut pemilihan kepala daerah (pilkada) baik di tingkat provinsi untuk menjadi gubernur atau lewat kota atau kabupaten untuk menjadi walikota atau bupati.

Adalah Berry Barita Purba, SH, MH. Dia kelahiran 1963 di Desa Hutaraja, Kecamatan Doloksanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas). Dia adalah satu dari sekian banyak yang memberanikan diri maju ikut menjadi Calon Bupati Humbahas periode 2021-2025. "Kita lihat saja, biar mengalir bagai air,  semua keputusan, sepenuhnya ditangan rakyat. Rakyatlah yang berdaulat, dan rakyatlah yang mengetahui pemimpin yang  diinginkannya," ujar Berry.

Tentu Berry tidak bermodal dengkul buat pulang membangun kampung halamannya di seberang danau Toba. Setidaknya satu mandat sudah dipegangnya. Di akhir 2019 lalu, Forum Komunikasi Pomparan Toga Simamora (FPTS) menggelar pertemuan  dan sepakat mendukung  Berry Barita Purba sebagai calon bupati Humbahas di Pilkada 2020. "Ini adalah panggilan jiwa untuk membangun kampung halaman," kata suami Bernadis Nainggolan ini.

Seabreg pengalaman berada di Ibukota juga sudah dikantungi. Dia mengaku sebagai kader Partai Golkar yang bergerak di dunia profesi. Sebut saja, kini dia menjadi salah seorang ketua Badan Pengurus Pusat Asosiasi Rekanan Pengadaan Barang dan Distibutor Indonesia (BPP Ardin Indonesia) mendampingi Ketua Umum Bambang Soesatyo yang juga Ketua MPR RI.

Kini, Berry juga sedang  menduduki jabatan Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Perusahaan Teknik Mekanikal Elektrikal (DPP Aptek Indonesia). Di Kamar Dagang dan Industri Daerah (Kadinda) DKI Jakarta beberapa kali menjadi wakil ketua umum. Terakhir sebagai Direktur Badan Sertifikasi Kadin (BSK).

Berbekal pengalamannya berorganisasi dan bergaul dengan orang pusat, Berry pun mengemas rencana membangun kampung besar Humbahas dari sebuah visi, yaitu
"Terwujudnya Masyarakat Humbang Hasundutan yang Maju, Berkeadilan dan Sejahtera".

Visi tersebut dijabarkan dalam lima misi besar. Pertama, meningkatkan percepatan dan perluasan pembentukan sumber daya manusia yang SMART (Sehat, Maju, Agamis, Ramah dan Terampil). Kedua, meningkatkan kinerja birokrasi yang bersih, kompeten, dan profesional demi pembangunan yang efektif, efisien, serta pelayanan prima kepada masyarakat dalam pelayanan dasar khususnya kesehatan, pendidikan dan pertanian.

Ketiga, meningkatkan pembangunan sektor pertanian serta sektor produktif lainnya, melalui peningkatan produktivitas berbasis teknologi tepat guna dan akses terhadap sarana produksi, serta memberikan perlindungan terhadap masyarakat untuk mewujudkan tata niaga yang adil dan menyejahterakan. Keempat, meningkatkan usaha pariwisata, ekonomi kreatif serta mewujudkan ekonomi rumah tangga berbasis pertanian, peternakan, dan perikanan menjadi UMKM yang berdaya saing. Kelima, mewujudkan pembangunan infrastruktur yang merata dan berkualitas serta berdimensi kewilayahan.

Sentra Jagung

Yang terang, Berry bertekad menjadikan Humbahas sebagai daerah unggulan pertanian jagung. Dengan sedikit sentuhan teknologi tepat guna, produksi jagung bisa digenjot dua kali lipat. Secara konvensional, sehektare lahan bisa menghasilkan 5-6 ton jagung. "Dengan sedikit sentuhan intensifikasi, sehektare lahan dapat memanen 10-12 ton, dan kami siap membantu pemasarannya," katanya suatu pertengahan Februari 2020 ini.

"Yang jelas saya tak mau banyak mengubar kata. Sebab bagi saya, berkarya lebih penting daripada berkata-kata," kata Berry yang bertekad meningkatkan taraf hidup masyarakat di kampungnya. Naik kelasdari usaha mikro atau petani gurem menjadi usaha kecil. Dan, kelak tumbuh bersama menjadi pengusaha menengah, lalu besar.

Mengapa jagung? Berry menjelaskan manfaat tanaman semusim itu. Semua unsur jagung, katanya, daru biji, batang, dayn, hingga bonggolnya bernilai ekonomi. Salah satu kunci agar para petani dan masyarakat Humbahas maju, kuncinya adalah mereka perlu berhimpun dalam wadah koperasi.

"Pemikiran seperti itu dibutuhkan kampung halamannya Pak Berry. Rugi jika mereka tak bisa mengimplementasikannya secara konkret," tutur Nasfi Burhan, rekan kerja Berry di Ardin dan Kadinda DKI Jakarta.

Berry pun berujar, tekad itu tidak hanya dijanjikan saat hendak mengikuti pilkada saja. Terpilih atau tidak terpilih menjadi bupati, membangun kampungnya adalah tetap jadi kewajiban bagi para perantau.  Apapun caranya. Tentu dengan sentuhan entrepreneurship. (bs3)

Editor: